STOP DISKRIMINASI

Sebuah rumah di  Jalan Kamboja 2 Gang Mendanau Nomor 31 Rt. 25 Rw. 10 Kelurahan Pangkalalang Kecamatan Tanjungpandan Kabupaten Belitung, di tempat inilah saya menghabiskan waktu selama hampir 22 tahun hidup di muka bumi ini. Di sebuah rumah yang berada di dalam gang sempit inilah saya tinggal bersama dengan kedua orang tua dan kakak kandung saya. Walaupun rumah saya tersebut berada di dalam gang yang sempit namun masih ada sebuah lapangan voli dengan ukuran kurang lebih 25x8 meter di depan rumah saya tersebut.
Dan di lapangan tersebut lah saya menghabiskan waktu kanak-kanak saya bersama dengan teman-teman saya  yang juga tinggal di sekitar lapangan itu.

Saya dan keluarga merupakan warga keturunan daerah Yogyakarta yang menganut agama Katholik. Dan bertempat tinggal di sebuah lingkungan yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam tentu saja bukan lah masalah bagi kedua orang tua saya. Namun, bukan berarti saya tidak pernah mengalami hal buruk sebagai akibat dari agama yang saya dan keluarga saya anut ini.

Kita kembali saat saya masih berusia 9 tahun, sepulangnya saya dari sekolah, saya selalu langsung disuruh oleh ibu saya untuk tidur siang, namun di satu hari saat itu saya merasa sulit untuk tidur, dikarenakan bunyi tawa dari arah lapangan voli yang berada di depan rumah saya. Mendengar suara tawa itu saya pun langsung bangkit dan menengok dari jendela kamar dan saya melihat Heldi, Ogest, Dalu, dan Ican yang merupakan teman-teman saya yang tinggal di sekitaran rumah saya sedang bermain kelereng di lapangan tersebut.
Melihat hal tersebut, saya merasa tertarik untuk ikut bermain bersama mereka.
Dan setelah meminta izin kepada ibu saya untuk bermain kelereng bersama dengan mereka saya pun langsung pergi ke arah mereka dengan maksud untuk ikut bermain.

Sesampainya saya di dekat mereka saya berkata kepada mereka dengan menggunakan bahasa daerah kami, "Ajak aku main be?, aku lah mawak gundu juak", yang artinya "(Ajak saya main juga dong?, saya sudah bawa kelereng juga)", mendengar perkataan saya tersebut Ican langsung menjawab dengan ketus, "Dak sala ke kao nak main kan kamek? Kao to kresten, makan gadok, dak usalah main kan kamek, haram tauke!", yang artinya, "(Kamu tidak salah mau main kelereng dengan kami? kamu itu Khristen, makan bab*, tidak usah main dengan kami, haram tau gak!").
Mendengar jawaban yang seperti itu, Ogest,Heldi dan Dalu hanya bisa terdiam, dari raut wajah mereka menunjukkan bahwa mereka cukup terkejut dengan jawaban Ican yang seperti itu.

Mendengar jawaban Ican yang seperti itu,saya pun juga hanya bisa terdiam, karena saya tidak ingin membuat Ican menjadi lebih emosi. Saya hanya menjauh dari mereka dan kemudian pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar. Dan Saya tidak menceritakan hal tersebut kepada kedua orang tua saya. Karena saya takut kedua orang tua saya akan marah besar dengan Ican, dan malah akan menimbulkan masalah baru. Saya hanya memendam sendiri rasa sakit hati atas ucapan Ican yang seperti itu pada saya.

Ya begitulah pengalaman diskriminasi SARA yang pernah saya rasakan saat saya masih lumayan kecil, apakah hal itu sampai sekarang masih sering terjadi??? Entahlah.. yang jelas saya hanya berharap semoga saja masalah diskriminasi SARA dalam bentuk apapun, tidak lagi terjadi di Indonesia tercita ini. Amin.




Komentar